Sepotong senja untuk pacarku
— Surat cinta yang berisi
potongan senja ; (oleh Seno Gumira Ajidarma)
Alina Tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan
padamu sepotong senja — dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan
cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?
Seperti setiap senja di setiap
pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan
barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu
persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya
cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat
aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku
tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi
kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini
untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin
memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Sudah terlalu banyak kata di
dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak
akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah
kebudayaan manusia Alina.
Untuk apa? Kata-kata tidak ada
gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di
dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain
yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri.
Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber
dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa
diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.
Kukirimkan sepotong senja untukmu
Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut
dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang
sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik
cakrawala.
Alina yang manis, Alina yang
sendu,
Akan kuceritakan padamu bagaimana
aku mendapatkan senja itu untukmu.
Sore itu aku duduk seorang diri di
tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang
dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi
bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski
buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan
langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap
saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.
Kemudian tiba-tiba senja dan
cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu
dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus
untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada
empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa
abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
Setelah itu aku berjalan pulang
dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah
senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan
hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi
malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap
sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah
semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.
Ketika aku meninggalkan pantai
itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi
gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu
pos.
Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan
kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara
kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Dia yang mengambil senja itu!
Saya lihat dia mengambil senja itu!”. Kulihat orang-orang itu melangkah ke
arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas. “Catat
nomernya! Catat nomernya!”
Aku melejit ke jalan raya.
Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu
untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku.
Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas
karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat
dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam
mobilku, sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun
ke angkasa.
Dari radio yang kusetel aku tahu,
berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam
mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja
saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok?
Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing?
Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di
toko-toko, dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah
waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang
asongan di perempatan jalan.
“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”
Di jalan tol mobilku melaju masuk
kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi
meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat
cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota,
tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan
berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak
pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang
suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang
kubawa ini dicari-cari polisi.
Sirene polisi mendekat dari
belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.
“Pengemudi mobil Porsche abu-abu
metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena
dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi
berdasarkan…”
Aku tidak sudi mendengarnya lebih
lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap
gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota
sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku
lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna,
gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong
rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.
Satu mobil terlempar di jalan
layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi
terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi
bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa
mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin
dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih
utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya
padamulah senja ini kuserahkan Alina.
Tapi Alina, polisi ternyata tidak
sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan
aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa
senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat.
Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong
yang terbuka. Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku
berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas
sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke
suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.
“Masuklah,” katanya tenang,
“disitu kamu aman.
Ia menunjuk gorong-gorong yang
terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Baunya bacin dan pesing. Kutengok ke
bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter
dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.
“Masuklah, kamu tidak punya
pilihan lain.”
Dan gelandangan itu mendorongku.
Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera
tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot
helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah
senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa
melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup
tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu.
Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut,
namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak
gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana
dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.
Aku berjalan terus melangkahi
mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan
senja Alina.
Di ujung gorong-gorong,di tempat
cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya
semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina,
tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan
tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi
sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai
dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan
dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja
tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan
tempat yang sama.
Aku berjalan ke tepi pantai.
Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan
dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada
cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.
“semua itu memang tidak perlu.
Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta.
Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin
diterjemahkan dalam bahasa?”
Sambil duduk di tepi pantai aku
berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya?
Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini
kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya
burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat
sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya
burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam
seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin
jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di
atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….
Jadi, begitulah Alina, kuambil
juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat
sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan
dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di
belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali
menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.
Sampai di atas, setelah melewati
kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi
lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang
menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.
Aku berjalan mencari mobilku.
Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci.
Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja
di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya
keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang
jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…
Alina kekasihku, pacarku,
wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang
terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar
kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini
untukmu, lewat pos. Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja
dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.
Kini gorong-gorong itu betul-betul
menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita
pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap. Mereka akan berkisah
bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan
rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil
senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan
bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang
kepada pacarnya.
Alina yang manis, paling manis,
dan akan selalu manis,
Terimalah sepotong senja itu,
hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan
lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah
airnya bisa membanjiri permukaan bumi.
Dengan ini kukirimkan pula
kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah
tempat yang paling sunyi di dunia.
Unsur-unsur Struktural yang
membangun Cerita pendek Sepotong Senja Untuk Pacarku Karya Seno Gumira Ajidarma
Tema
Dalam Cerita pendek Sepotong
Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma bertemakan Cinta, dalam karyanya
tersebut Penulis mencoba menggambarkan seorang laki-laki yang memperjuangkan
dan membuktikan Cintanya kepada seseorang yang dalam Subjek cerita tersebut
bernama Alina.
Tokoh dan Penokohan
Aku : Watak dari tokoh Aku dalam cerita
tersebut Rela berkorban dan Pantang menyerah dalam memperjuangkan perasaannya
yakni Cintanya yang tulus dan nyata bagi kekasihnya, Alina.
Alina : Watak Alina dalam cerita tersebut tidak
digambarkan karena isi cerita tersebut hanya menggambarkan tokoh
"Aku" dalam memperjuangkan Perasaan cintanya terhadap tokoh
"Alina" yakni kekasihnya, tanpa menceritakan bagaimana kehidupan ataupun
bahasan tokoh Alina dalam cerita tersebut.
Gelandangan: Watak gelandangan
dalam cerita tersebut yakni baik atau protagonis, ia memberikan pertolongan
pada tokoh "Aku" untuk menyarankan bersembunyi dalam Gorong-gorong
ketika tokoh "Aku" menjadi subjek pencarian Polisi.
Anak-anak Gelandangan : Anak-anak Gelandangan diketahui
keberadaannya dalam cerita tersebut pada saat tokoh "Aku" berada di
dalam Gorong-gorong ketika bersembunyi pada saat Polisi mencarinya. Watak dari anak-anak
gelandangan tersebut tidak penulis gambarkan secara terperinci, ia hanya
menggambarkan bahwa Anak-anak gelandangan itu sedang duduk-duduk, tiduran, dan
sebagian sembari memeluk rebana, meskipun pada artinya bukan duduk, tidur, atau
memeluk rebana yang sesungguhnya.
Polisi : Watak Polisi yang terdapat
dalam cerita pendek tersebut dapat
dikategorikan Antagonis, dapat digambarkan dalam cara mereka mencari tokoh
"Aku" ketika hanya mengambil
senja yang pada arti sesungguhnya bukan senja yang ketika pergantian matahari
menuju petang.
Setting
Tempat :
Di pantai, seperti dalam konteks
kalimat "Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia
yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu,
menjelmakan alam itu untuk mataku".
Di jalan Raya, seperti dalam konteks
kalimat "Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena
semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana".
Di mobil, seperti dalam konteks
kalimat "Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu
aku segera masuk mobil dan tancap gas".
Gorong-gorong, seperti dalam
konteks kalimat "Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main.
Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri
di atasnya".
Dikota, seperti dalam konteks
kalimat "Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya
keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara".
Suasana :
Tenang, terdapat dalam konteks
kalimat "Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga
burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu
lewat di jauhan". Kutipan tersebut menggambarkan seolah pembaca ikut dalam
suasana ketenganan.
Romantis, terdapat dalam konteks
kalimat "Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang
tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari
sekedar kata-kata".
Resah, terdapat dalam konteks
kalimat "Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat
melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu".
Tegang, terdapat dalam konteks
kalimat "Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena
semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana".
Mencekam, terdapat dalam konteks
kalimat "Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di
sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak
lantas terbakar".
Waktu :
Sore hari, digambarkan dalam
konteks kalimat "Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang
dunia yang terdiri dari waktu".
Malam hari, digambarkan dalam
konteks kalimat "Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka
menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat".
Pagi hari, digambarkan dalam
konteks kalimat "Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu
saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang
berdesis-desis".
Alur atau plot
Alur atau Plot yang terkandung
dalam cerita pendek Sepotong senja untuk Pacarku disini memiliki Alur Maju,
yakni diawali dengan perkenalan tokoh -- pegenalan masalah -- dilanjutkan
dengan memuncaknya masalah -- dan diakhiri penyelesaian masalah itu sediri yang
penulis cerita gambarkan.
Sudut Pandang
Penulis cerita tersebut
memberikan atau menggambarkan cerita tersebut dalam Sudut Pandang Orang
pertama, karena dalam Cerita tersebut tokoh "Aku" menjadi peran utama
dalam cerita yang berusaha menggambarkan perjuangannya dalam memberikan bukti
cintanya terhadap orang lain yakni dalam hal ini tokoh "Alina".
Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang terkandung dalam
isi cerita pendek Sepotong senja untuk pacarku menggunakan beberapa gaya bahasa
Majas atau bahasa Khiasan, Seno Gumira pada beberapa karyanya selalu
menggunakan bahasa khiasan yang dapat menambah daya tarik sehingga orang lain
khususnya penikmat sastra kecanduan menyukai karyanya. Seperti salahsatu
contohnya terdapat dalam konteks kalimat "Terimalah sepotong senja itu,
hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan
lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah
airnya bisa membanjiri permukaan bumi". Kutipan tersebut hanya potongan
dari beberapa gaya bahasa yang penulis cerita gunakan dalam ceritanya, arti
"Senja" dari konteks kalimat tersebut
bukan arti yang sebenarnya, Melainkan penjabaran dari keinginginan Tokoh
"Aku" untuk "Alina" menerima Harapan, Cinta, dan
kepercayaannya yang sarat akan ketulusan hanya untuk tokoh Alina semata, tokoh
Aku juga mengisyaratkan agar alina tidak mengabaikan Harapan yang ia berikan
terhadap alina.
Amanat
Penulis mencoba menyampaikan
pesan kepada pembaca melalui perjuangan Tokoh "Aku" dalam
memperjuangkan apa yang ingin ia berikan kepada tokoh Alina, dengan sekuat
tenaga dan perjuangan yang tak gentar ia mengajarkan bahwa perjuangan seperti
itu patut dicontoh dan diteladani dalam hal memperjuangkan apa yang kita
harapkan.
Judul, Simbolisme, dan Ironi
Stanton menambahkan Judul,
Simbolisme, dan Ironi dalam Sarana cerita Pendek. Judul yang terdapat dalam
cerita pendek Karya Seno Gumira Ajidarma ini yakni Sepotong Senja untuk
Pacarku. Menariknya, Seno menggambarkan Senja tersebut suatu Harapan atau Cinta
yang ia persembahkan untuk alena, dan hal tersebutlah yang menjadi salahsatu
simbol yang terdapat pada karya Cerita pendek Sepotong senja untuk pacarku karya
seno tersebut. Selain itu juga beberapa simbol terdapat dalam cerita tersebut
seperti biasanya seno gunakan pada setiap karyanya menggunakan simbol pada
setiap kata demi kata dan kalimat demi kalimatnya. Dalam cerita pendek tersebut
tidak ditemukannya ironi dalam menggambarkan ide atau gagasan yang Seno
sampaikan kepada pembaca, ia menggambarkan ide tersebut sebagaimana mestinya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam
cerita pendek Sepotong Senja Untuk Pacarku Karya Seno Gumira Ajidarma
Kerja keras
Dalam cerita pendek Sepotong
senja untuk Pacarku terselip nilai-nilai yang dapat memberikan pengetahuan bagi
peserta didik dalam proses membentuk karakternya guna menciptakan generasi muda
yang baik dan berkualitas. Salahsatu nilai yang pertama yakni Kerja keras,
meskipun cerita tersebut subjek aku diceritakan sebagai tokoh yang mengambil
objek "Senja", namun hal tersebut bukan arti senja yang sesungguhnya.
Melainkan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya untuk ia berikan kepada
orang yang iya kasihi. Nilai yang dapat kita jadikan dorongan dalam pembentukan
karakter peserta didik yakni berusaha sekuat mungkin dan memperjuangkan apa
yang paling berarti dalam hidup, jangan pedulikan rintangan apa yang kita
hadapi di depan, dengan berjuang dan memegang teguh pendirian apa yang kita
percayai, itu akan menjadi modal keberhasilan di masa depan, namun tentu dengan
cara yang baik juga.
Peduli sosial
Selain Kerja keras, cerita
tersebut juga terkandung nilai Peduli sosial yang patut kita teladani dari
sifat tokoh gelandangan yang membantu tokoh aku dalam memperjuangkan apa yang
tokoh aku perjuangkan. Beberapa orang
saat ini hanya membantu sesuatu yang hanya ada manfaat untuk dirinya semata
atau dengan kata lain mengharapkan sesuatu dari hasil bantuan tersebut. Dengan
mengajarkan dan membentuk peserta didik untuk saling membantu sesama tanpa
memandang untungnya untuk pribadi tentu dapat menjadi modal utama dalam
menghasilkan generasi muda yang baik, yang beriman dan saling bergotong royong
dalam hal kebaikan.
SIMPULAN
Berdasarkan pemaparan kajian
diatas, dengan memilih metode Kajian Strukturalisme genetik, dengan kata lain
mengkaji setiap unsur yang membangun suatu cerita baik itu Unsur yang terdapat
dalam isi cerita maupun Unsur yang terdapat dari luar isi cerita tersebut.
Kajian Strukturalisme genetik dengan Kajian Strukturalisme mamiliki kesamaan,
namun perbedaannya Strukturalisme Genetik membahas juga unsur luar suatu karya
tersebut bukan hanya pada unsur dalam karya tersebut.
Karya tulis baik Novel maupun
cerita pendek ataupun karya tulis lainnya tentu memiliki unsur yang membangun
karya sastra khususnya. Selain Novel, Cerita pendek juga memiliki keunikan
khusus untuk menjadi Objek kajian Strukturalisme genetik. Selain isi atau
gagasan cerita yang lebih singkat, Unsur-unsur struktural cerita pendek juga
lebih mudah diketahui dan dipahami. Begitupun meneliti nilai-nilai yang
terkandung dalam cerita tersebut yang penting kita ketahui guna menambah
referensi dalam proses pembentukan Karakter peserta didik.
Dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam suatu cerita dapat menjadi teladan bagi pembentukan karakter
khususnya Peserta didik. Dengan pengenalan nilai-nilai yang baik melalui media
Karya tulis khususnya cerita pendek tersebut dapat dijadikan alternatif dan
lebih efisien dalam mengenalkan nilai yang baik bagi peserta didik dengan
santai dan menyenangkan.