Membangun karakter dan budaya
di sekolah
Pendidikan
budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan penting. Untuk itulah
Kemendiknas menyelenggarakan Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya
dan Karakter Bangsa untuk memperoleh masukan dari para pemangku kepentingan
seperti akademisi, budayawan, tokoh agama, praktisi pendidikan dan guru.
Agaknya Mendiknas Mohammad Nuh paham betul masalah ini perlu mendapat perhatian
khusus jajarannya. Belakangan, keluhan masyarakat
tentang menurunnya tata krama, etika dan kreativitas karena melemahnya
pendidikan budaya dan karakter bangsa memang bermunculan.
Banyak hal yang menjadi pemicu mulai dari tayangan sinetron yang tidak bermutu,
sikap tidak patut dan perang mulut yang dipertontonkan para legislatif dan birokrat
dilayar kaca hingga faktor banyaknya guru yang sekedar mengajar. Mendiknas
Mohammad Nuh ketika membuka sarasehan nasional mengatakan sekolah mulai dari
taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai
agen penyebar virus positif terhadap karakter dan budaya bangsa. Dia meminta
para pemangku kepentingan untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang
menjadikan anak tidak hanya mampu menghapal, tetapi juga dapat mengetahui,
mengingat, dan paham apa yang diingatnya. Selain itu, Mendiknas juga meminta agar pihak sekolah membangun karakter dan
budaya bangsa secara sistematik. "Budaya itu pun juga bisa direkayasa
dalam makna positif. Tolong dibahas bagaimana rekayasa
untuk menyistematiskan pengembangan budaya agar jelas tahapannya,"
ujarnya. Tidak ada yang menolak tentang pentingnya karakter dan budaya, tetapi
jauh lebih penting bagaimana menyusun dan menyistemasikan, sehingga anak-anak
dapat lebih berkarakter dan lebih berbudaya, katanya dalam arahannya. Beberapa
kebiasaan atau budaya yang perlu ditumbuh kembangkan di antaranya adalah budaya
apresiasif konstruktif. Siapa pun yang dapat memberikan kontribusi positif di
lingkungannya perlu diberikan apresiasi. Kebiasaan memberikan apresiasi itu
akan membangun lingkungan untuk tumbuh suburnya orang berprestasi. Kalau
lingkungan sendiri tidak mendukung seseorang berprestasi maka nanti akan terus
menerus negatif.
Budaya
berikutnya yang perlu dikembangkan, kata Mendiknas, adalah objektif
komprehensif, yakni dengan mentradisikan, bahwa melihat segala sesuatu secara
utuh. Selanjutnya, menumbuhkan rasa penasaran intelektual (intellectual
curiosity) dan kesediaan untuk belajar dari orang lain.
Hidupkan
pramuka Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP Kemendiknas,
mengatakan pendidikan Pramuka, Paskibraka dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya
yang menumbuhkan kecintaan kepada bangsa merupakan pendidikan budaya dan
karakter bangsa yang selama ini telah diimplementasikan dan menjadi sesuatu
kesatuan dari kurikulum pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
"Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini cenderung pada implementasi,
harus dipraktek sehingga titik beratnya bukan pada teori. Karena itu,
pendidikan ini seperti "hidden curiculum", ujarnya Didik mengungkapkan
bahwa nilai-nilai terkait dengan pendidikan budaya dan karakter bangsa sudah
ada sejak lama. "Kebiasaan mengucapkan salam kepada guru saat datang dan
pulang dari sekolah, mengucapkan doa sebelum memulai pelajaran, atau kegiatan
yang menumbuhkan kecintaan kepada bangsa seperti Pramuka, kegiatan Paskibra dan
lain-lain," katanya. Oleh karena itu kegiatan yang menumbuh kembangkan
pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti pramuka, usaha kesehatan sekolah
(UKS) dan ektrakurikuler lainnya seperti menari, musik angklung dan lainnya
harus dihidupkan lagi di sekolah-sekolah. Soal implementasinya yang mulai
mengendur bisa saja terjadi, tetapi masih banyak sekolah-sekolah yang mampu
memadukan antara kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan
sosial sehari-hari di sekolah. "Di Bandung ada SMP Negeri yang setiap
hari, yakni kepala sekolah dan guru-guru berdiri berjejer di pintu masuk untuk
menyambut dan saling memberi salam dengan murid-muridnya," katanya.
Penguatan pendidikan budaya dan karakter bangsa memang menjadi program 100 Hari
Kemendiknas dan Mendiknas Mohammad Nuh pada rapat pimpinan beberapa waktu lalu
telah meminta agar jajarannya focus untuk pengimplementasiannya tanpa harus
menjadi mata pelajaran khusus karena prinsipnya bisa dikembangkan dalam proses
belajar mengajar semua mata pelajaran.
Peran
guru Pakar Pendidikan Arief Rachman
juga mengharapkan pendidikan budaya dan
karakter bangsa dihidupkan kembali di sekolah dan justru yang
penting adalah bagaimana memasukkannya dalam proses belajar mengajar bukan
semata meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler. "Hal ini bisa terjadi jika
guru menyadari dirinya bukan sekedar mengajar
tetapi mendidik sehingga ketika mengajar mata
pelajaran apapun dia akan mengkaitkannya dengan pendidikan karakter. Misalnya,
ulangan tidak boleh nyontek, harus jujur pada diri sendiri dan mampu mengukur
kemampuan. Peran guru untuk mengingatkan murid tentang semua hal itu sangat
penting," katanya. Menurut dia, sejak masih dibangku kuliah,para calon
guru seharusnya sudah menguasai pendidikan budaya dan karakter bangsa ini
sehingga mereka menyadari bahwa tugasnya mengajar adalah mendidik anak untuk menjadi akhlak mulia bukan sekedar mengajar.
"Guru dan siswa harus paham bahwa kejujuran,
kedisiplinan, ketekunan, toleransi adalah kendaraan
untuk
menuju akhlak mulia dan hal itu bisa diterapkan secara
menyeluruh dalam setiap mata pelajaran, bukan menjadi pendidikan yang terpisah."
Dengan demikian implementasinya tidak perlu ada modul karena guru harus
melakukan pendekatan yang strategis bagaimana mengelola kelas, berkomunikasi
dengan baik pada anak didik, mengembangkan kepribadian anak dengan baik. "UU Sisdiknas sudah mengamatkan bahwa pendidikan itu agar anak
memiliki akhlak mulia jadi berarti dalam hal syarat
kelulusanpun menentukan. Anak yang
tidak memiliki akhlak mulia, meskipun pinter jangan dibiarkan lulus,"
tambah Arief.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar