Senin, 03 Juni 2013

Membangun karakter dan budaya di sekolah

Membangun karakter dan budaya
di sekolah

Pendidikan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan penting. Untuk itulah Kemendiknas menyelenggarakan Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa untuk memperoleh masukan dari para pemangku kepentingan seperti akademisi, budayawan, tokoh agama, praktisi pendidikan dan guru. Agaknya Mendiknas Mohammad Nuh paham betul masalah ini perlu mendapat perhatian khusus jajarannya. Belakangan, keluhan masyarakat tentang menurunnya tata krama, etika dan kreativitas karena melemahnya pendidikan budaya dan karakter bangsa memang bermunculan. Banyak hal yang menjadi pemicu mulai dari tayangan sinetron yang tidak bermutu, sikap tidak patut dan perang mulut yang dipertontonkan para legislatif dan birokrat dilayar kaca hingga faktor banyaknya guru yang sekedar mengajar. Mendiknas Mohammad Nuh ketika membuka sarasehan nasional mengatakan sekolah mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai agen penyebar virus positif terhadap karakter dan budaya bangsa. Dia meminta para pemangku kepentingan untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang menjadikan anak tidak hanya mampu menghapal, tetapi juga dapat mengetahui, mengingat, dan paham apa yang diingatnya. Selain itu, Mendiknas juga meminta agar pihak sekolah membangun karakter dan budaya bangsa secara sistematik. "Budaya itu pun juga bisa direkayasa dalam makna positif. Tolong dibahas bagaimana rekayasa untuk menyistematiskan pengembangan budaya agar jelas tahapannya," ujarnya. Tidak ada yang menolak tentang pentingnya karakter dan budaya, tetapi jauh lebih penting bagaimana menyusun dan menyistemasikan, sehingga anak-anak dapat lebih berkarakter dan lebih berbudaya, katanya dalam arahannya. Beberapa kebiasaan atau budaya yang perlu ditumbuh kembangkan di antaranya adalah budaya apresiasif konstruktif. Siapa pun yang dapat memberikan kontribusi positif di lingkungannya perlu diberikan apresiasi. Kebiasaan memberikan apresiasi itu akan membangun lingkungan untuk tumbuh suburnya orang berprestasi. Kalau lingkungan sendiri tidak mendukung seseorang berprestasi maka nanti akan terus menerus negatif.
Budaya berikutnya yang perlu dikembangkan, kata Mendiknas, adalah objektif komprehensif, yakni dengan mentradisikan, bahwa melihat segala sesuatu secara utuh. Selanjutnya, menumbuhkan rasa penasaran intelektual (intellectual curiosity) dan kesediaan untuk belajar dari orang lain.

Hidupkan pramuka Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP Kemendiknas, mengatakan pendidikan Pramuka, Paskibraka dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya yang menumbuhkan kecintaan kepada bangsa merupakan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang selama ini telah diimplementasikan dan menjadi sesuatu kesatuan dari kurikulum pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. "Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini cenderung pada implementasi, harus dipraktek sehingga titik beratnya bukan pada teori. Karena itu, pendidikan ini seperti "hidden curiculum", ujarnya Didik mengungkapkan bahwa nilai-nilai terkait dengan pendidikan budaya dan karakter bangsa sudah ada sejak lama. "Kebiasaan mengucapkan salam kepada guru saat datang dan pulang dari sekolah, mengucapkan doa sebelum memulai pelajaran, atau kegiatan yang menumbuhkan kecintaan kepada bangsa seperti Pramuka, kegiatan Paskibra dan lain-lain," katanya. Oleh karena itu kegiatan yang menumbuh kembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti pramuka, usaha kesehatan sekolah (UKS) dan ektrakurikuler lainnya seperti menari, musik angklung dan lainnya harus dihidupkan lagi di sekolah-sekolah. Soal implementasinya yang mulai mengendur bisa saja terjadi, tetapi masih banyak sekolah-sekolah yang mampu memadukan antara kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan sosial sehari-hari di sekolah. "Di Bandung ada SMP Negeri yang setiap hari, yakni kepala sekolah dan guru-guru berdiri berjejer di pintu masuk untuk menyambut dan saling memberi salam dengan murid-muridnya," katanya. Penguatan pendidikan budaya dan karakter bangsa memang menjadi program 100 Hari Kemendiknas dan Mendiknas Mohammad Nuh pada rapat pimpinan beberapa waktu lalu telah meminta agar jajarannya focus untuk pengimplementasiannya tanpa harus menjadi mata pelajaran khusus karena prinsipnya bisa dikembangkan dalam proses belajar mengajar semua mata pelajaran.

Peran guru Pakar Pendidikan Arief Rachman juga mengharapkan pendidikan budaya dan karakter bangsa dihidupkan kembali di sekolah dan justru yang penting adalah bagaimana memasukkannya dalam proses belajar mengajar bukan semata meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler. "Hal ini bisa terjadi jika guru menyadari dirinya bukan sekedar mengajar tetapi mendidik sehingga ketika mengajar mata pelajaran apapun dia akan mengkaitkannya dengan pendidikan karakter. Misalnya, ulangan tidak boleh nyontek, harus jujur pada diri sendiri dan mampu mengukur kemampuan. Peran guru untuk mengingatkan murid tentang semua hal itu sangat penting," katanya. Menurut dia, sejak masih dibangku kuliah,para calon guru seharusnya sudah menguasai pendidikan budaya dan karakter bangsa ini sehingga mereka menyadari bahwa tugasnya mengajar adalah mendidik anak untuk menjadi akhlak mulia bukan sekedar mengajar. "Guru dan siswa harus paham bahwa kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, toleransi adalah kendaraan

untuk menuju akhlak mulia dan hal itu bisa diterapkan secara menyeluruh dalam setiap mata pelajaran, bukan menjadi pendidikan yang terpisah." Dengan demikian implementasinya tidak perlu ada modul karena guru harus melakukan pendekatan yang strategis bagaimana mengelola kelas, berkomunikasi dengan baik pada anak didik, mengembangkan kepribadian anak dengan baik. "UU Sisdiknas sudah mengamatkan bahwa pendidikan itu agar anak memiliki akhlak mulia jadi berarti dalam hal syarat kelulusanpun menentukan. Anak yang tidak memiliki akhlak mulia, meskipun pinter jangan dibiarkan lulus," tambah Arief. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JAWABAN UKPPPG 2024

PELATIHAN 1: Menerapkan Prinsip Understanding by Design (UbD) pada Pembelajaran  1. Fase-fase yang perlu dilakukan untuk merancang perencana...